Selasa, 13 Maret 2012

Ilustrasi Sejarah

Pada suatu waktu. Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik datang ke Madinah. Beliau ingin bertemu dengan Abu Hazim, yaitu satu-satunya sahabat Rasulullah saw. Yang masih hidup. Kepada Abu Hazim, Khalifah menanyakan tentang bagaimana keadaan seseorang itu pada waktu ia akan meninggal dunia. Maka Abu Hazim pun berkata : “Keadaan orang yang akan meninggal dunia itu ada dua macam. Pertama, seperti perantau yang dipanggil pulang ke kampong halamannya untuk menyaksikan hasil kirimannya yang sudah dibuatkan rumah yang bagus dengan taman yang indah. Foto mengenai semuanya itu telah dikirimkan kepadanya sebelum dia berangkat. Kita dapat bayangkan bagaimana sukacitanya perasaan sang perantau, tentu ia ingin segera mempercepat kepulangannya itu. Apalagi dikhabarkan pula kepadanya, bahwa kedatangannya nanti akan disambut oleh masyarakat dengan riang gembira sebagai perantau yang berhasil. Adapun keadaan yang kedua, adalah seperti penjahat yang lari dari penjara kemudian dia tertangkap kembali. Ia akan diseret, disiksa, dan dilemparkan dengan kejam ke tempatnya semula. Dapat dibayangkan, betapa takut dan ngerinya perasaan orang itu.”
Mendengar penjelasan Abu Hazim itu, kontan Khalifah menangis tersedu-sedu sambil berdoa dengan syahdu : ‘Ya Allah ! Janganlah Engkau jadikan aku di waktu kembali kepada-Mu seperti layaknya seorang penjahat yang melarikan diri kemudia tertangkap kembali’.
Kelompok pertama, menggambarkan orang-orang yang meyakini bahwa suatu waktu mereka akan kembali kepada Allah, mereka berusaha sekuat tenaga menyiapkan bekal yang banyak untuk perjalanan yang amat jauh di alam akhirat. Bekal itu ialah amal saleh dalam jalur hablum-minallah dan jalur hablum-minannas.
Kelompok kedua, mewakili orang-orang yang lalai menyiapkan perbekalan, umur dihabiskannya untuk memenuhi kepuasan hawa nafsu belaka. Mereka gigih mencari fasilitas demi memuaskan kebutuhan nafsu, seperti foya-foya dan mengumbar nafsu syahwat, memiliki rumah seperti istana dan mobil-mobil mewah yang kesemuanya itu hanya untuk prestise saja. Mereka mengukur kesuksesan hidup di dunia ini dari kehebatan fasilitas atau materi yang mereka miliki.
Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (Al-Baqarah: 212)
Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafir pun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (Al-Baqarah: 126)
Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar. (An-Nuur:39)

sumber: http://renung.net/ilustrasi-sejarah/

Selasa, 14 Februari 2012

Valentine Menurut Islam

Nah diawal tahun tepatnya dibulan kedua masehi : Februari ada sebuah tanggal yang katanya hari kasih sayang atau hari valentine. Hari dimana sebagian manusia bumi ini merayakannya dengan suka cita. Namun tahukan anda sejarah valentine dan pandangan valentine menurut islam?


Dibawah ini ada kutipan yang membahas mengenai hari valentine menurut islam atau sudut pandang islam tentang valentine days


Oleh kerana itu Islam amat melarang kepercayaan yang membonceng(mendorong/mengikut) kepada suatu kepercayaan lain atau dalam Islam disebut Taqlid.


Hadis Rasulullah s.a.w:“ Barang siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu”.
Firman Allah s.w.t. dalam Surah AL Imran (keluarga Imran) ayat 85 :“Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-sekali tidaklah diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.


HAL-HAL YANG HARUS DIBERI PERHATIAN:-


Dalam masalah Valentine itu perlu difahami secara mendalam terutama dari kaca mata agama kerana kehidupan kita tidak dapat lari atau lepas dari agama (Islam) sebagai pandangan hidup. Berikut ini beberapa hal yang harus difahami di dalam masalah 'Valentine Day'.




1. PRINSIP / DASAR
Valentine Day adalah suatu perayaan yang berdasarkan kepada pesta jamuan 'supercalis' bangsa Romawi kuno di mana setelah mereka masuk Agama Nasrani (kristian), maka berubah menjadi 'acara keagamaan' yang dikaitkan dengan kematian St. Valentine.




2. SUMBER ASASI
Valentine jelas-jelas bukan bersumber dari Islam, melainkan bersumber dari rekaan fikiran manusia yang diteruskan oleh pihak gereja. Oleh kerana itu lah , berpegang kepada akal rasional manusia semata-mata, tetapi jika tidak berdasarkan kepada Islam(Allah), maka ia akan tertolak.


Firman Allah swt dalam Surah Al Baqarah ayat 120 :“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.


Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemahuan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.




3. TUJUAN
Tujuan mencipta dan mengungkapkan rasa kasih sayang di persada bumi adalah baik. Tetapi bukan seminit untuk sehari dan sehari untuk setahun. Dan bukan pula bererti kita harus berkiblat kepada Valentine seolah-olah meninggikan ajaran lain di atas Islam. Islam diutuskan kepada umatnya dengan memerintahkan umatnya untuk berkasih sayang dan menjalinkan persaudaraan yang abadi di bawah naungan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bahkan Rasulullah s.a.w. bersabda :“Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga ia cinta kepada saudaranya seperti cintanya kepada diri sendiri”.




4. OPERASIONAL
Pada umumnya acara Valentine Day diadakan dalam bentuk pesta pora dan huru-hara.
Perhatikanlah firman Allah s.w.t.:“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithon dan syaithon itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. (Surah Al Isra : 27)


Surah Al-Anfal ayat 63 yang berbunyi : “…walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia (Allah) Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.




Sudah jelas ! Apapun alasannya, kita tidak dapat menerima kebudayaan import dari luar yang nyata-nyata bertentangan dengan keyakinan (akidah) kita. Janganlah kita mengotori akidah kita dengan dalih toleransi dan setia kawan. Kerana kalau dikata toleransi, Islamlah yang paling toleransi di dunia.




Sudah berapa jauhkah kita mengayunkan langkah mengelu-elukan(memuja-muja) Valentine Day ? Sudah semestinya kita menyedari sejak dini(saat ini), agar jangan sampai terperosok lebih jauh lagi. Tidak perlu kita irihati dan cemburu dengan upacara dan bentuk kasih sayang agama lain. Bukankah Allah itu Ar Rahman dan Ar Rohim. Bukan hanya sehari untuk setahun. Dan bukan pula dibungkus dengan hawa nafsu. Tetapi yang jelas kasih sayang di dalam Islam lebih luas dari semua itu. Bahkan Islam itu merupakan 'alternatif' terakhir setelah manusia gagal dengan sistem-sistem lain.




Lihatlah kebangkitan Islam!!! Lihatlah kerosakan-kerosakan yang ditampilkan oleh peradaban Barat baik dalam media massa, televisyen dan sebagainya. Karena sebenarnya Barat hanya mengenali perkara atau urusan yang bersifat materi. Hati mereka kosong dan mereka bagaikan 'robot' yang bernyawa.




MARI ISTIQOMAH (BERPEGANG TEGUH)
Perhatikanlah Firman Allah :
“…dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim”.




Semoga Allah memberikan kepada kita hidayahNya dan ketetapan hati untuk dapat istiqomah dengan Islam sehingga hati kita menerima kebenaran serta menjalankan ajarannya.


Tujuan dari semua itu adalah agar diri kita selalu taat sehingga dengan izin Allah s.w.t. kita dapat berjumpa dengan para Nabi baik Nabi Adam sampai Nabi Muhammad s.a.w.


Firman Allah s.w.t.:
“Barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya maka dia akan bersama orang-orang yang diberi nikmat dari golongan Nabi-Nabi, para shiddiq (benar imannya), syuhada, sholihin (orang-orang sholih), mereka itulah sebaik-baik teman”.




Berkata Peguam Zulkifli Nordin (peguam di Malaysia) di dalam kaset 'MURTAD' yang mafhumnya :-


"VALENTINE" adalah nama seorang paderi. Namanya Pedro St. Valentino. 14 Februari 1492 adalah hari kejatuhan Kerajaan Islam Sepanyol. Paderi ini umumkan atau isytiharkan hari tersebut sebagai hari 'kasih sayang' kerana pada nya Islam adalah ZALIM!!! Tumbangnya Kerajaan Islam Sepanyol dirayakan sebagai Hari Valentine. Semoga Anda Semua Ambil Pengajaran!!! Jadi.. mengapa kita ingin menyambut Hari Valentine ini kerana hari itu adalah hari jatuhnya kerajaan Islam kita di Sepanyol..


Demikianlah sudut pandang islam menanggapi valentine menurut islam, semoga kita sebagai muslim dapat mengambil kesimpulan dari pembahasan diatas. Amin 
Wallahu a'lam bis shawab


Sumber: http://d-niell.blogspot.com/2012/01/valentine-menurut-islam.html

Sejarah Hari Valentine

Perayaan hari Valentine termasuk salah satu hari raya bangsa Romawi paganis (penyembah berhala), di mana penyembahan berhala adalah agama mereka semenjak lebih dari 17 abad silam. Perayaan valentin tersebut merupakan ungkapan dalam agama paganis Romawi kecintaan terhadap sesembahan mereka.


Perayaan Valentine's Day memiliki akar sejarah berupa beberapa kisah yang turun-temurun pada bangsa Romawi dan kaum Nasrani pewaris mereka. Kisah yang paling masyhur tentang asal-muasalnya adalah bahwa bangsa Romawi dahulu meyakini bahwa Romulus (pendiri kota Roma) disusui oleh seekor serigala betina, sehingga serigala itu memberinya kekuatan fisik dan kecerdasan pikiran. Bangsa Romawi memperingati peristiwa ini pada pertengahan bulan Februari setiap tahun dengan peringatan yang megah. Di antara ritualnya adalah menyembelih seekor anjing dan kambing betina, lalu dilumurkan darahnya kepada dua pemuda yang kuat fisiknya. Kemudian keduanya mencuci darah itu dengan susu. Setelah itu dimulailah pawai besar dengan kedua pemuda tadi di depan rombongan. Keduanya membawa dua potong kulit yang mereka gunakan untuk melumuri segala sesuatu yang mereka jumpai. Para wanita Romawi sengaja menghadap kepada lumuran itu dengan senang hati, karena meyakini dengan itu mereka akan dikaruniai kesuburan dan melahirkan dengan mudah.


Sejarah hari valentine I :
Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera. Tahu gak dewa Zeus? itu bokap-nye hercules.


Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan berlari-lari di jalanan kota Roma sambil membawa potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai dijalan. Sebagian ahli sejarah mengatakan ini sebagai salah satu sebab cikal bakal hari valentine.


Sejarah Valentine's Day II :
Menurut Ensiklopedi Katolik, nama Valentinus diduga bisa merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda yaitu dibawah ini:


  • pastur di Roma
  • uskup Interamna (modern Terni)
  • martir di provinsi Romawi Afrika.
Hubungan antara ketiga martir ini dengan hari raya kasih sayang (valentine) tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.


Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti dari emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine (14 Februari), di mana peti dari emas diarak dalam sebuah prosesi dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu dilakukan sebuah misa yang khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.


Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santo yang asal-muasalnya tidak jelas, meragukan dan hanya berbasis pada legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.


Sejarah hari valentine III :


 Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sastrawan Inggris Pertengahan bernama Geoffrey Chaucer. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa:


For this was sent on Seynt Valentyne's day (Bahwa inilah dikirim pada hari Santo Valentinus) Whan every foul cometh ther to choose his mate (Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya)


Pada jaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari valentine dan memanggil pasangan Valentine mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi naskah British Library di London. Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada jaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa:


  • Sore hari sebelum santo Valentinus akan mati sebagai martir (mati syahid), ia telah menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis "Dari Valentinusmu".
  • Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka diam-diam.
Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.


Sejarah Valentines Day IV :
Kisah St. Valentine


Valentine adalah seorang pendeta yang hidup di Roma pada abad ke-III. Ia hidup di kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal kejam. Ia sangat membenci kaisar tersebut. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalamya.


Namun sayangnya keinginan ini tidak didukung. Para pria enggan terlibat dalam peperangan. Karena mereka tak ingin meninggalkan keluarga dan kekasih hatinya. Hal ini membuat Claudius marah, dia segera memerintahkan pejabatnya untuk melakukan sebuah ide gila.


Claudius berfikir bahwa jika pria tidak menikah, mereka akan senang hati bergabung dengan militer. Lalu Claudius melarang adanya pernikahan. Pasangan muda saat itu menganggap keputusan ini sangat tidak masuk akal. Karenanya St. Valentine menolak untuk melaksanakannya.


St. Valentine tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, yaitu menikahkan para pasangan yang tengah jatuh cinta meskipun secara rahasia. Aksi ini akhirnya diketahui oleh kaisar yang segera memberinya peringatan, namun ia tidak menggubris dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi cahaya lilin.


Sampai pada suatu malam, ia tertangkap basah memberkati salah satu pasangan. Pasangan tersebut berhasil melarikan diri, namun malang St. Valentine tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan divonis hukuman mati dengan dipenggal kepalanya. Bukannya dihina oleh orang-orang, St. Valentine malah dikunjungi banyak orang yang mendukung aksinya itu. Mereka melemparkan bunga dan pesan berisi dukungan di jendela penjara dimana dia ditahan.


Salah satu dari orang-orang yang percaya pada cinta kasih itu adalah putri penjaga penjara sendiri. Sang ayah mengijinkan putrinya untuk mengunjungi St. Valentine. Tak jarang mereka berbicara lama sekali. Gadis itu menumbuhkan kembali semangat sang pendeta. Ia setuju bahwa St. Valentine telah melakukan hal yang benar alias benul eh betul.


Pada hari saat ia dipenggal alias dipancung kepalanya, yakni tanggal 14 Februari gak tahu tahun berapa, St. Valentine menyempatkan diri menuliskan sebuah pesan untuk gadis putri sipir penjara tadi, ia menuliskan Dengan Cinta dari Valentinemu.


Pesan itulah yang kemudian mengubah segalanya. Kini setiap tanggal 14 Februari orang di berbagai belahan dunia merayakannya sebagai hari kasih sayang. Orang-orang yang merayakan hari itu mengingat St. Valentine sebagai pejuang cinta, sementara kaisar Claudius dikenang sebagai seseorang yang berusaha mengenyahkan cinta.


Kesimpulan:


Dari semua asal usul atau sejarah diatas bisa disimpulkan bahwa "hari valentin memiliki latar belakang yang tidak jelas sama-sekali", baik dari ceritanya maupun waktu terjadinya (perhatikan abad terjadinya sejarah diatas walaupun ada nama tokoh yang sama).




Sumber: http://ugiq.blogspot.com/2010/01/sejarah-hari-valentine-mitos-valentine.html

Jumat, 10 Februari 2012

Cendekiawan Muslim

Berikut merupakan tokoh-tokoh mulism yang berperan penting dalam sejarah dunia, jejak langkah mereka yang positif ini perlu kita teladani.
  1. Abdul Rahman al-Sufi: Ahli ilmu perbintangan, penulis buku astronomi berilustrasi paling tua. 
  2. Abu Barakat al-Baladi: Tabib spesialis pengkritik sengit Ibnu Sina
  3. Abu Mansur al-Bagdadi: Raja Aritmatika dan matematika faraid. 
  4. Abu Ma'shar al-Balkhi: Astronom astrolog dan saintis pertama yang menyanggah Aristoteles. 
  5. Ahmad bin Tulun: "Ulil Albab" Produktif dan pendiri kemaharajaan Tulun yang anti kolusi. 
  6. Al-Balkhi: "Ayatullah" geografi, pendiri institusi geografi kontemporer. 
  7. Al-Dinawari: Intelektual "plus" yang menguasai ilmu-ilmu botani, astronomi dan matematika. 
  8. Al-Farisi: Santri terbaik Nasiruddin Tusi, pengarang karya-karya optik paling impresif. 
  9. Al-Ghafiki: "Pendekar" paranormal supernatural sekaligus oftalmolog. 
  10. Al-Halabi: Teoritisi dan praktisi kedokteran mata dengan diagnosa-diagnosa jitu. 
  11. Ali bin Abbas: Dokter bedah dengan karya legendaris "Liber Regelis". Reputasinya sejajar dengan Ibnu Sina dan Ar-Razi. 
  12. Al-Istakhri: Pengelana intelektual dan penulis buku-buku geografi yang perfeksionis. 
  13. Al-Jaghmini: "Resi" astronomi dan "Begawan" kedokteran. 
  14. Al-Jahiz: Biolog, teolog dan poligraf "posmo" pengeksplorasi ilmu-ilmu "baru". 
  15. Al-jurjani: Dokter-filsof penyusun ensiklopedi kedokteran pertama. 

Sumber: M.Natsir Arsyad, Cendekiawan Muslim dari Khalili sampai Habibie, Jakarta: SriGunting, cet. III, 2000

(insya Allah di lain kesempatan akan dilanjut)

Rabu, 17 Agustus 2011

PUASA LAHIR BATIN

Oleh : Muhammad Noer

Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah yang telah memberi kita kesempatan untuk menjalani Ramadhan tahun ini.
Rasulullah saw bersabda, “Banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga.”
Hadis di atas mengindikasikan bahwa puasa seharusnya tidak sekedar menahan diri dari lapar dan dahaga. Jika hanya demikian, maka akan merugilah orang yang berpuasa tersebut karena ia hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Puasa harus menjadi alat mentransformasi diri seseorang sehingga menambah kedekatan kepada Allah Ta’ala.
Dalam pemahaman umum, puasa adalah menahan diri dari makan dan minum sejak terbit matahari sampai waktu tenggelamnya. Termasuk di dalamnya menahan diri dari berhubungan seksual dengan pasangan. Ini adalah puasa lahir.
Sementara Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dalam Sirr Al-Asrar (Rahasia dari Segala Rahasia) menjelaskan ada puasa jenis yang lain yakni puasa batin. Puasa batin dilakukan dengan cara menjaga semua indra dan pikiran dari segala yang diharamkan. Dengan kata lain, puasa batin adalah meninggalkan ketidakselarasan, baik lahir maupun batin. Sedikit saja niat buruk hinggap di hatimu, puasamu rusak. Jika puasa lahir dibatasi oleh waktu, puasa batin dijalani selama-lamanya, selama hidup di dunia hingga kehidupan di akhirat. Itulah puasa sejati.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menjelaskan, puasa yang paling baik adalah puasa hakikat, yaitu mencegah hati dari menyembah selain Allah. Caranya adalah dengan membutakan mata hati dari segala yang ada, bahkan di alam hakikat di luar dunia ini sehingga yang tersisa hanyalah cinta kepada Allah.

Tak ada yang pantas diharapkan, tak ada tujuan lain, dan tak ada kekasih di dunia ini dan di akhirat, kecuali Allah. Puasa ruhani batal jika cinta kepada selain Allah, meski sebesar atom, memasuki hati. Jika itu terjadi, kita harus memulainya lagi, membangkitkan tekad dan niat untuk kembali kepada cinta-Nya di dunia ini dan di akhirat. Sebab, Allah berfirman, “Puasa adalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya.”
Semoga Allah membantu kita tak hanya berpuasa lahir, melainkan juga puasa batin. Semoga ibadah puasa tahun ini akan mengantarkan kita menjadi lebih dekat kepada Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah 2:183 semoga puasa akan mengantarkan kita kepada ketaqwaan.
Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Tulisan ini merujuk karya Syaikh Abdul Qadir Jailani bagian “Puasa Lahir Batin” dalam Sirr Al Asrar yang diterbitkan Serambi, 2008
Rujukan lainnya adalah Meraih Kemuliaan Ramadhan, kumpulan tulisan dengan editor Laleh Bakhtiar dan pengantar oleh Seyyed Hossein Nasr yang diterbitkan Mizan, 1997

Sumber:
http://www.muhammadnoer.com/2009/08/puasa-lahir-batin/

Sudah Berapa Kali Kita Khatam al-Qur’an?

  Oleh: Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA
 
TADARUS al-Qur’an adalah suatu aktivitas interaksi seorang muslim dengan al-Quran. Ia merupakan amal shalih yang paling digalakkan pada bulan Ramadhan. Sayangnya, selama ini banyak orang semangat bertadarus, namun tujuannya pamer dengan suara yang keras dan lantang. Padahal, tadarus seperti ini akan hilang maknanya atau menjadi sia-sia, karena riya’  atau mengganggu orang lain. Terlebih lagi bagi orang yag bertadarus pada malam hari hingga lewat tengah malam dengan suara yang keras (memakai mikrofon). Tentu sangat mengganggu aktivitas istirahat dan ibadah saudara kita yang lain. Terlebih lagi ada saudara kita yang sakit.

Sebenarnya, tadarus tidak hanya bermakna memperbanyak bacaan al-Qur’an dan mengkhatamkannya, namun juga bermakna memahami, mentadabburi dan mempelajari al-Qur’an. Semua aktivitas yang berkaitan dengan al-Qur’an ini bertujuan untuk mengamalkan al-Qur’an. Sangatlah keliru bila seseorang mengklaim dirinya mengamalkan al-Qur’an tanpa membaca, memahami dan mempelajarinya. Karena, sebelum kita mengamalkan a-Quran, tentu harus melewati proses membaca, memahami dan mempelajarinya.


Pada bulan Ramadhan Rasulullah saw selalu bertadarus al-Qur’an dengan Jibril as, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ibnu Abbas (H.R. Bukhari). Makna ruhiah inilah yang dipahami oleh para ulama salafusshalih (shahabat, tabiin dan tabi’ tabi’in) sehingga mereka meninggalkan sementara aktivitas dunia mereka, bahkan pengajian yang mereka asuh selama ini hanya untuk bertadarus atau berinteraksi dengan al-Qur’an pada bulan Ramadhan. Sebahagian mereka ada yang mengkhatamkan al-Quran setiap tiga hari. Ada pula yamg mengkhatamkannya setiap sepekan dan sepuluh hari. Bahkan ada yang mampu mengkhatamkan al-Qur’an setiap harinya pada bulan Ramadhan.

Maka, sudah sepantasnya bulan Ramadhan ini kita berkosentrasi penuh dengan al-Qur’an dan berinteraksi dengannya sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan para ulama salafusshalih.  Terlebih lagi bulan Ramadhan memiliki sederet kelebihan dan keutamaan, bulan dimana disediakan mega bonus pahala bagi orang yang mengisi hari-harinya dengan ibadah dan amal shalih, terutama aktivitas memperbanyak membaca dan mempelajari al-Qur’an yang dikenal dalam masyarakat kita dengan sebutan tadarrus al-Qur’an.


Lantas, bagaimana dengan komitmen kita selama ini sebagai seorang muslim terhadap al-Quran, sudahkah kita membacanya setiap hari dan mengkhatamkannya? Sudahkah kita memahami makna  dan isi kandungan al-Qur’an dan mentadabburi ayat-ayatnya?

Pertanyaan ini penting dijawab oleh diri kita masing-masing sebagai introspeksi dan inspirasi bagi kita untuk bersemangat dalam berinteraksi dengan al-Qur’an, terlebih lagi di bulan Ramadhan ini.

  Kiat Berinteraksi dengan al-Quran
  Di bulan Ramadhan inilah kita perlu mempertegas kembali komitmen dan interaksi kita terhadap al-Qur’an. Interaksi dengan al-Qur’an atau tadarus al-Qur’an dapat dilakukan dengan cara-cara berikut:

Pertama, memperbanyak bacaan al-Qur’an. Bertekad untuk membaca al-Qur’an setiap harinya di bulan Ramadhan. Target minimal mampu membaca 1 juz setiap harinya sehingga dapat mengkhatamkan bacaan al-Qur’an sekali selama bulan Ramadhan. Bahkan kalau bisa, kita harus punya target beberapa kali khatam. Sehingga, setelah Ramadhan sudah terbiasa membacanya. Bila kita mampu membaca 1 juz setiap hari berarti kita mampu mengkhatamkan hanya 1 kali selama bulan Ramadhan. Sebenarnya, orang yang mengkhatamkan al-Qur’an hanya 1 kali masih termasuk orang yang malas.


Kenapa demikian? Karena, membaca 1 juz dengan bacaan tartil hanya memakan waktu sekitar 30 s/d 45 menit. Masih banyak tersisa waktu (baca: 23 jam lagi) yang bisa kita gunakan untuk urusan dunia dan akhirat.
Bayangkan, kalau kita mampu membaca 2 juz setiap harinya, berarti akan khatam 2 kali dalam sebulan. Bagaimana kalau kita mampu membaca 5 juz per hari? Tentu khatam 5 kali dalam sebulan. Hal ini tidak terlalu sulit bila kita mau membagi waktu dengan baik.


Caranya mudah, setiap habis shalat fardhu kita berkomitmen untuk baca 1 juz. Maka, bila sehari semalam itu shalat fardu 5 waktu, berarti kita mampu baca 5 juz. Bila kita mampu membaca 5 Juz setiap harinya, berarti kita mampu mengkhatamkan al-Qur’an 5 kali dalam sebulan. Maka tidak mengherankan, bila para ulama salafus shalih mampu mengkhatamkan al-Qur’an selama bulan Ramadhan sampai 10 kali khatam.

Selama ini kita mampu membaca surat kabar yang jumlah hurufnya lebih kurang sebanyak jumlah huruf dalam 1 juz al-Qur’an dalam waktu 15-30 menit. Begitu pula kita mampu suatu majalah dalam waktu waktu beberapa jam bisa mengkhatamkannya. Bahkan kita mampu membaca sebuah buku yang lembaran halamannya setebal al-Qur’an setebal al-Qur’an, baik berupa buku novel, cerpen, roman, komik, buku kuliah dan sebagainya dalam waktu beberapa hari berhasil mengkhatamkannya. Namun sayangnya, giliran membaca al-Qur’an kita tidak mampu membaca 1 juz atau beberapa juz dari Al-Qur’an dalam sehari, terlebih lagi mengkhatamkannya dalam beberapa hari sebagaimana dilakukan oleh para ulama salafusshalih.

Paling tidak, kita berkomitmen untuk mampu membaca 1 juz Al-Qur’an setiap harinya yang hanya butuh waktu kurang dari 1 jam dalam waktu 24 jam yang Allah sediakan waktu buat kita dalam sehari. Terlebih lagi membaca al-Qur’an merupakan ibadah dan mendapat keutamaan yang banyak bagi orang yang membacanya. Tidak demikian halnya dengan bacaan lainnya seperti buku kuliah, novel, komik, koran, majalah dan sebagainya.

Kedua, memahami isi kandungan al-Qur’an yaitu dengan cara memahami makna ayat-ayat al-Qur’an baik secara harfiah (terjemahan) maupun makna tafsir ayat tersebut, agar kita mengerti apa yang kita baca yaitu pesan dan ajaran Allah tersebut sehingga dapat kita amalkan. Mengamalkan al-Qur’an tidak mungkin dilakukan tanpa mengetahui pesan-pesan al-Qur’an tersebut. Begitu pula dengan cara mentadabburi (menghayati) kisah-kisah dalam al-Qur’an, agar menjadi ibrah dan dapat diambil manfaatnya sebagai cermin untuk kehidupan kita saat ini. Tentu kisah yang baik perlu dicontoh dan diamalkan, sedangkan kisah yang tidak baik perlu dijauhi dan ditinggalkan.


Ketiga, menghafal al-Qur’an. Minimal surat-surat pendek dan surat-surat penting lainnya yang sering dibaca dalam shalat. Para ulama shalafus shalih mampu hafal al-Qur’an dalam umur masih kanak-kanak. Misalnya, imam Syafi’i hafal al-Qur’an pada umur 7 tahun. Itulah modal kesuksesan mereka di dunia dan di akhirat, sehingga mengantarkan mereka menjadi seorang ulama dan menjadi hamba Allah yang bertakwa.


Maka sangat disayangkan, jika kita mampu menghafal banyak lagu dan puisi, namun kita tidak mampu menghafal ayat-ayat Al-Qur’an yang suci dan mulia, walaupun hanya beberapa surat pendek atau juz amma. Bahkan, lebih parahnya lagi bila kita merasa tenang dan terhibur dengan lagu dan musik yang melalaikan kita dari ibadah dan mengumbarkan syahwat, namun kita tidak merasa tenang dengan membaca dan mendengar Al-Qur’an yang merupakan kalam suci Allah Swt, padahal Allah berfirman.


لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً



“Sesunggguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah suri tauladan bagimu..” (QS. Al-Ahzab: 21). Hal ini ditegaskan pula di dalam ayat yang lain: “Sesunggguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (QS. Al-Qalam: 4).


Begitu agung dan mulianya akhlak Rasulullah sehingga beliau mendapat pujian dari Allah Swt. Inilah rahasia kesuksesan dakwah Rasulullah saw, sehingga Islam tersebar keseluruh penjuru dunia dan menjadi rahmatan lil ‘alamin.


Demikianlah cara muamalah (interaksi) kita dengan al-Qur’an.

Bulan Ramadhan merupakan momentum yang sangat tepat untuk mempertegas kembali komitmen kita terhadap al-Qur’an. Berbagai kelebihan dan keutamaan Ramadhan sejatinya mampu memotivasi kita untuk lebih peduli dan intensif dalam berinteraksi dengan al-Qur’an.


Sungguh sangat ironis, bila dalam bulan mega bonus pahala ini kita masih malas membaca al-Qur’an dan tidak mampu mengkhatamkannya, maka kapan lagi kita akan rajin membaca Al-Qur’an dan mampu mengkhatamkannnya? Sudah dapat dipastikan kita akan lebih malas lagi membaca Al-Qur’an pada bulan lainnya yang tidak memiliki keutamaan seperti yang dimiliki oleh bulan Ramadhan dengan berbagai kesibukan dan godaan dunia.

Sumber: 
  http://hidayatullah.com/read/18500/17/08/2011/sudah-berapa-kali-kita-khatam-al-qur%E2%80%99an?.html