Oleh : Muhammad Noer
Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah yang telah memberi kita kesempatan untuk menjalani Ramadhan tahun ini.
Rasulullah saw bersabda, “Banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga.”
Hadis di atas mengindikasikan bahwa puasa seharusnya tidak sekedar menahan diri dari lapar dan dahaga. Jika hanya demikian, maka akan merugilah orang yang berpuasa tersebut karena ia hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Puasa harus menjadi alat mentransformasi diri seseorang sehingga menambah kedekatan kepada Allah Ta’ala.
Dalam pemahaman umum, puasa adalah menahan diri dari makan dan minum sejak terbit matahari sampai waktu tenggelamnya. Termasuk di dalamnya menahan diri dari berhubungan seksual dengan pasangan. Ini adalah puasa lahir.
Sementara Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dalam Sirr Al-Asrar (Rahasia dari Segala Rahasia) menjelaskan ada puasa jenis yang lain yakni puasa batin. Puasa batin dilakukan dengan cara menjaga semua indra dan pikiran dari segala yang diharamkan. Dengan kata lain, puasa batin adalah meninggalkan ketidakselarasan, baik lahir maupun batin. Sedikit saja niat buruk hinggap di hatimu, puasamu rusak. Jika puasa lahir dibatasi oleh waktu, puasa batin dijalani selama-lamanya, selama hidup di dunia hingga kehidupan di akhirat. Itulah puasa sejati.
Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menjelaskan, puasa yang paling baik adalah puasa hakikat, yaitu mencegah hati dari menyembah selain Allah. Caranya adalah dengan membutakan mata hati dari segala yang ada, bahkan di alam hakikat di luar dunia ini sehingga yang tersisa hanyalah cinta kepada Allah.
Tak ada yang pantas diharapkan, tak ada tujuan lain, dan tak ada kekasih di dunia ini dan di akhirat, kecuali Allah. Puasa ruhani batal jika cinta kepada selain Allah, meski sebesar atom, memasuki hati. Jika itu terjadi, kita harus memulainya lagi, membangkitkan tekad dan niat untuk kembali kepada cinta-Nya di dunia ini dan di akhirat. Sebab, Allah berfirman, “Puasa adalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya.”
Semoga Allah membantu kita tak hanya berpuasa lahir, melainkan juga puasa batin. Semoga ibadah puasa tahun ini akan mengantarkan kita menjadi lebih dekat kepada Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah 2:183 semoga puasa akan mengantarkan kita kepada ketaqwaan.
Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Tulisan ini merujuk karya Syaikh Abdul Qadir Jailani bagian “Puasa Lahir Batin” dalam Sirr Al Asrar yang diterbitkan Serambi, 2008
Rujukan lainnya adalah Meraih Kemuliaan Ramadhan, kumpulan tulisan dengan editor Laleh Bakhtiar dan pengantar oleh Seyyed Hossein Nasr yang diterbitkan Mizan, 1997
Sumber:
http://www.muhammadnoer.com/2009/08/puasa-lahir-batin/
Tampilkan postingan dengan label Penyucian jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyucian jiwa. Tampilkan semua postingan
Rabu, 17 Agustus 2011
Senin, 23 Mei 2011
Keutamaan Sifat Qona’ah
Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
"Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki yang secukupnya dan Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana'ah (merasa cukup dan puas) dengan rezeki yang Allah berikan kepadanya."[1].
Hadits yang mulia menunjukkan besarnya keutamaan seorang muslim yang memiliki sifat qanaa'ah[2], karena dengan itu semua dia akan meraih kebaikan dan keutamaan di dunia dan akhirat, meskipun harta yang dimilikinya sedikit[3].
Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:
- Arti qanaa'ah adalah merasa ridha dan cukup dengan pembagian rezeki yang Allah Ta'ala berikan[4].
- Sifat qana'ah adalah salah satu ciri yang menunjukkan kesempurnaan iman, karena sifat ini menunjukkan keridhaan orang yang memilikinya terhadap segala ketentuan dan takdir Allah, termasuk dalam hal pembagian rezeki. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Akan merasakan kemanisan (kesempurnaan) iman, orang yang ridha kepada Allah Ta'ala sebagai Rabb-nya dan Islam sebagai agamanya, serta (nabi) Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai rasulnya."[5].
Arti "ridha kepada Allah sebagai Rabb" adalah ridha kepada segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan dan pilihan-Nya, serta kepada apa yang diberikan dan yang tidak diberikan-Nya[6].
- Yang dimaksud dengan rezeki dalam hadits ini adalah rezeki yang diperoleh dengan usaha yang halal, karena itulah yang dipuji dalam Islam[7].
- Arti sabda beliau, "…yang secukupnya" adalah yang sekadar memenuhi kebutuhan, serta tidak lebih dan tidak kurang[8], inilah kadar riekei yang diminta oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Allah untuk keluarga beliau , sebagaimana dalam doa beliau, "Ya Allah, jadikanlah rezeki (yang Engkau limpahkan untuk) keluarga (Nabi) Muhammad (shallallahu 'alaihi wa sallam) Quutan."[9]. Artinya: yang sekadar bisa memenuhi kebutuhan hidup/ seadanya[10].
- Rasululah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya kemewahan dunia (harta), akan tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati)."[11].
- Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "…Ridhahlah (terimalah) pembagian yang Allah tetapkan bagimu, maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya (merasa kecukupan)."[12].
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Kendari, 29 Jumadal ula 1432 H
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Artikel www.manisnyaiman.com
[1] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 1054).
[2] Lihat kitab Syarhu Shahiihi Muslim tulisan imam an-Nawawi (7/145).
[3] Lihat kitab Faidhul Qadiir (4/508).
[4] Ibid.
[5] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 34).
[6] Lihat kitab Fiqhul Asma-il Husna (hal. 81).
[7] Lihat kitab Faidhul Qadiir (4/508).
[8] Lihat kitab Syarhu Shahiihi Muslim (7/145) dan Faidhul Qadiir (4/508).
[9] Hadits shahihi riwayat al-Bukhari (no. 6095) dan Muslim (no. 1055).
[10] Lihat kitab Syarhu Shahiihi Muslim (7/146).
[11] Hadits shahih riwayat al-Bukhari (no. 6081) dan Muslim (no. 120).
[12] HR at-Tirmidzi (no. 2305) dan Ahmad (2/310), dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani.
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
"Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki yang secukupnya dan Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana'ah (merasa cukup dan puas) dengan rezeki yang Allah berikan kepadanya."[1].
Hadits yang mulia menunjukkan besarnya keutamaan seorang muslim yang memiliki sifat qanaa'ah[2], karena dengan itu semua dia akan meraih kebaikan dan keutamaan di dunia dan akhirat, meskipun harta yang dimilikinya sedikit[3].
Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:
- Arti qanaa'ah adalah merasa ridha dan cukup dengan pembagian rezeki yang Allah Ta'ala berikan[4].
- Sifat qana'ah adalah salah satu ciri yang menunjukkan kesempurnaan iman, karena sifat ini menunjukkan keridhaan orang yang memilikinya terhadap segala ketentuan dan takdir Allah, termasuk dalam hal pembagian rezeki. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Akan merasakan kemanisan (kesempurnaan) iman, orang yang ridha kepada Allah Ta'ala sebagai Rabb-nya dan Islam sebagai agamanya, serta (nabi) Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai rasulnya."[5].
Arti "ridha kepada Allah sebagai Rabb" adalah ridha kepada segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan dan pilihan-Nya, serta kepada apa yang diberikan dan yang tidak diberikan-Nya[6].
- Yang dimaksud dengan rezeki dalam hadits ini adalah rezeki yang diperoleh dengan usaha yang halal, karena itulah yang dipuji dalam Islam[7].
- Arti sabda beliau, "…yang secukupnya" adalah yang sekadar memenuhi kebutuhan, serta tidak lebih dan tidak kurang[8], inilah kadar riekei yang diminta oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Allah untuk keluarga beliau , sebagaimana dalam doa beliau, "Ya Allah, jadikanlah rezeki (yang Engkau limpahkan untuk) keluarga (Nabi) Muhammad (shallallahu 'alaihi wa sallam) Quutan."[9]. Artinya: yang sekadar bisa memenuhi kebutuhan hidup/ seadanya[10].
- Rasululah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya kemewahan dunia (harta), akan tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati)."[11].
- Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "…Ridhahlah (terimalah) pembagian yang Allah tetapkan bagimu, maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya (merasa kecukupan)."[12].
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Kendari, 29 Jumadal ula 1432 H
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Artikel www.manisnyaiman.com
[1] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 1054).
[2] Lihat kitab Syarhu Shahiihi Muslim tulisan imam an-Nawawi (7/145).
[3] Lihat kitab Faidhul Qadiir (4/508).
[4] Ibid.
[5] Hadits shahih riwayat Muslim (no. 34).
[6] Lihat kitab Fiqhul Asma-il Husna (hal. 81).
[7] Lihat kitab Faidhul Qadiir (4/508).
[8] Lihat kitab Syarhu Shahiihi Muslim (7/145) dan Faidhul Qadiir (4/508).
[9] Hadits shahihi riwayat al-Bukhari (no. 6095) dan Muslim (no. 1055).
[10] Lihat kitab Syarhu Shahiihi Muslim (7/146).
[11] Hadits shahih riwayat al-Bukhari (no. 6081) dan Muslim (no. 120).
[12] HR at-Tirmidzi (no. 2305) dan Ahmad (2/310), dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani.
Langganan:
Postingan (Atom)