Selasa, 14 Februari 2012

Sejarah Hari Valentine

Perayaan hari Valentine termasuk salah satu hari raya bangsa Romawi paganis (penyembah berhala), di mana penyembahan berhala adalah agama mereka semenjak lebih dari 17 abad silam. Perayaan valentin tersebut merupakan ungkapan dalam agama paganis Romawi kecintaan terhadap sesembahan mereka.


Perayaan Valentine's Day memiliki akar sejarah berupa beberapa kisah yang turun-temurun pada bangsa Romawi dan kaum Nasrani pewaris mereka. Kisah yang paling masyhur tentang asal-muasalnya adalah bahwa bangsa Romawi dahulu meyakini bahwa Romulus (pendiri kota Roma) disusui oleh seekor serigala betina, sehingga serigala itu memberinya kekuatan fisik dan kecerdasan pikiran. Bangsa Romawi memperingati peristiwa ini pada pertengahan bulan Februari setiap tahun dengan peringatan yang megah. Di antara ritualnya adalah menyembelih seekor anjing dan kambing betina, lalu dilumurkan darahnya kepada dua pemuda yang kuat fisiknya. Kemudian keduanya mencuci darah itu dengan susu. Setelah itu dimulailah pawai besar dengan kedua pemuda tadi di depan rombongan. Keduanya membawa dua potong kulit yang mereka gunakan untuk melumuri segala sesuatu yang mereka jumpai. Para wanita Romawi sengaja menghadap kepada lumuran itu dengan senang hati, karena meyakini dengan itu mereka akan dikaruniai kesuburan dan melahirkan dengan mudah.


Sejarah hari valentine I :
Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera. Tahu gak dewa Zeus? itu bokap-nye hercules.


Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan berlari-lari di jalanan kota Roma sambil membawa potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai dijalan. Sebagian ahli sejarah mengatakan ini sebagai salah satu sebab cikal bakal hari valentine.


Sejarah Valentine's Day II :
Menurut Ensiklopedi Katolik, nama Valentinus diduga bisa merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda yaitu dibawah ini:


  • pastur di Roma
  • uskup Interamna (modern Terni)
  • martir di provinsi Romawi Afrika.
Hubungan antara ketiga martir ini dengan hari raya kasih sayang (valentine) tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.


Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti dari emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine (14 Februari), di mana peti dari emas diarak dalam sebuah prosesi dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu dilakukan sebuah misa yang khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.


Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santo yang asal-muasalnya tidak jelas, meragukan dan hanya berbasis pada legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.


Sejarah hari valentine III :


 Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sastrawan Inggris Pertengahan bernama Geoffrey Chaucer. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa:


For this was sent on Seynt Valentyne's day (Bahwa inilah dikirim pada hari Santo Valentinus) Whan every foul cometh ther to choose his mate (Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya)


Pada jaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari valentine dan memanggil pasangan Valentine mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi naskah British Library di London. Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada jaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa:


  • Sore hari sebelum santo Valentinus akan mati sebagai martir (mati syahid), ia telah menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis "Dari Valentinusmu".
  • Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka diam-diam.
Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.


Sejarah Valentines Day IV :
Kisah St. Valentine


Valentine adalah seorang pendeta yang hidup di Roma pada abad ke-III. Ia hidup di kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal kejam. Ia sangat membenci kaisar tersebut. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalamya.


Namun sayangnya keinginan ini tidak didukung. Para pria enggan terlibat dalam peperangan. Karena mereka tak ingin meninggalkan keluarga dan kekasih hatinya. Hal ini membuat Claudius marah, dia segera memerintahkan pejabatnya untuk melakukan sebuah ide gila.


Claudius berfikir bahwa jika pria tidak menikah, mereka akan senang hati bergabung dengan militer. Lalu Claudius melarang adanya pernikahan. Pasangan muda saat itu menganggap keputusan ini sangat tidak masuk akal. Karenanya St. Valentine menolak untuk melaksanakannya.


St. Valentine tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, yaitu menikahkan para pasangan yang tengah jatuh cinta meskipun secara rahasia. Aksi ini akhirnya diketahui oleh kaisar yang segera memberinya peringatan, namun ia tidak menggubris dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi cahaya lilin.


Sampai pada suatu malam, ia tertangkap basah memberkati salah satu pasangan. Pasangan tersebut berhasil melarikan diri, namun malang St. Valentine tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan divonis hukuman mati dengan dipenggal kepalanya. Bukannya dihina oleh orang-orang, St. Valentine malah dikunjungi banyak orang yang mendukung aksinya itu. Mereka melemparkan bunga dan pesan berisi dukungan di jendela penjara dimana dia ditahan.


Salah satu dari orang-orang yang percaya pada cinta kasih itu adalah putri penjaga penjara sendiri. Sang ayah mengijinkan putrinya untuk mengunjungi St. Valentine. Tak jarang mereka berbicara lama sekali. Gadis itu menumbuhkan kembali semangat sang pendeta. Ia setuju bahwa St. Valentine telah melakukan hal yang benar alias benul eh betul.


Pada hari saat ia dipenggal alias dipancung kepalanya, yakni tanggal 14 Februari gak tahu tahun berapa, St. Valentine menyempatkan diri menuliskan sebuah pesan untuk gadis putri sipir penjara tadi, ia menuliskan Dengan Cinta dari Valentinemu.


Pesan itulah yang kemudian mengubah segalanya. Kini setiap tanggal 14 Februari orang di berbagai belahan dunia merayakannya sebagai hari kasih sayang. Orang-orang yang merayakan hari itu mengingat St. Valentine sebagai pejuang cinta, sementara kaisar Claudius dikenang sebagai seseorang yang berusaha mengenyahkan cinta.


Kesimpulan:


Dari semua asal usul atau sejarah diatas bisa disimpulkan bahwa "hari valentin memiliki latar belakang yang tidak jelas sama-sekali", baik dari ceritanya maupun waktu terjadinya (perhatikan abad terjadinya sejarah diatas walaupun ada nama tokoh yang sama).




Sumber: http://ugiq.blogspot.com/2010/01/sejarah-hari-valentine-mitos-valentine.html

Jumat, 10 Februari 2012

Cendekiawan Muslim

Berikut merupakan tokoh-tokoh mulism yang berperan penting dalam sejarah dunia, jejak langkah mereka yang positif ini perlu kita teladani.
  1. Abdul Rahman al-Sufi: Ahli ilmu perbintangan, penulis buku astronomi berilustrasi paling tua. 
  2. Abu Barakat al-Baladi: Tabib spesialis pengkritik sengit Ibnu Sina
  3. Abu Mansur al-Bagdadi: Raja Aritmatika dan matematika faraid. 
  4. Abu Ma'shar al-Balkhi: Astronom astrolog dan saintis pertama yang menyanggah Aristoteles. 
  5. Ahmad bin Tulun: "Ulil Albab" Produktif dan pendiri kemaharajaan Tulun yang anti kolusi. 
  6. Al-Balkhi: "Ayatullah" geografi, pendiri institusi geografi kontemporer. 
  7. Al-Dinawari: Intelektual "plus" yang menguasai ilmu-ilmu botani, astronomi dan matematika. 
  8. Al-Farisi: Santri terbaik Nasiruddin Tusi, pengarang karya-karya optik paling impresif. 
  9. Al-Ghafiki: "Pendekar" paranormal supernatural sekaligus oftalmolog. 
  10. Al-Halabi: Teoritisi dan praktisi kedokteran mata dengan diagnosa-diagnosa jitu. 
  11. Ali bin Abbas: Dokter bedah dengan karya legendaris "Liber Regelis". Reputasinya sejajar dengan Ibnu Sina dan Ar-Razi. 
  12. Al-Istakhri: Pengelana intelektual dan penulis buku-buku geografi yang perfeksionis. 
  13. Al-Jaghmini: "Resi" astronomi dan "Begawan" kedokteran. 
  14. Al-Jahiz: Biolog, teolog dan poligraf "posmo" pengeksplorasi ilmu-ilmu "baru". 
  15. Al-jurjani: Dokter-filsof penyusun ensiklopedi kedokteran pertama. 

Sumber: M.Natsir Arsyad, Cendekiawan Muslim dari Khalili sampai Habibie, Jakarta: SriGunting, cet. III, 2000

(insya Allah di lain kesempatan akan dilanjut)

Rabu, 17 Agustus 2011

PUASA LAHIR BATIN

Oleh : Muhammad Noer

Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah yang telah memberi kita kesempatan untuk menjalani Ramadhan tahun ini.
Rasulullah saw bersabda, “Banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga.”
Hadis di atas mengindikasikan bahwa puasa seharusnya tidak sekedar menahan diri dari lapar dan dahaga. Jika hanya demikian, maka akan merugilah orang yang berpuasa tersebut karena ia hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Puasa harus menjadi alat mentransformasi diri seseorang sehingga menambah kedekatan kepada Allah Ta’ala.
Dalam pemahaman umum, puasa adalah menahan diri dari makan dan minum sejak terbit matahari sampai waktu tenggelamnya. Termasuk di dalamnya menahan diri dari berhubungan seksual dengan pasangan. Ini adalah puasa lahir.
Sementara Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dalam Sirr Al-Asrar (Rahasia dari Segala Rahasia) menjelaskan ada puasa jenis yang lain yakni puasa batin. Puasa batin dilakukan dengan cara menjaga semua indra dan pikiran dari segala yang diharamkan. Dengan kata lain, puasa batin adalah meninggalkan ketidakselarasan, baik lahir maupun batin. Sedikit saja niat buruk hinggap di hatimu, puasamu rusak. Jika puasa lahir dibatasi oleh waktu, puasa batin dijalani selama-lamanya, selama hidup di dunia hingga kehidupan di akhirat. Itulah puasa sejati.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menjelaskan, puasa yang paling baik adalah puasa hakikat, yaitu mencegah hati dari menyembah selain Allah. Caranya adalah dengan membutakan mata hati dari segala yang ada, bahkan di alam hakikat di luar dunia ini sehingga yang tersisa hanyalah cinta kepada Allah.

Tak ada yang pantas diharapkan, tak ada tujuan lain, dan tak ada kekasih di dunia ini dan di akhirat, kecuali Allah. Puasa ruhani batal jika cinta kepada selain Allah, meski sebesar atom, memasuki hati. Jika itu terjadi, kita harus memulainya lagi, membangkitkan tekad dan niat untuk kembali kepada cinta-Nya di dunia ini dan di akhirat. Sebab, Allah berfirman, “Puasa adalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya.”
Semoga Allah membantu kita tak hanya berpuasa lahir, melainkan juga puasa batin. Semoga ibadah puasa tahun ini akan mengantarkan kita menjadi lebih dekat kepada Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah 2:183 semoga puasa akan mengantarkan kita kepada ketaqwaan.
Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Tulisan ini merujuk karya Syaikh Abdul Qadir Jailani bagian “Puasa Lahir Batin” dalam Sirr Al Asrar yang diterbitkan Serambi, 2008
Rujukan lainnya adalah Meraih Kemuliaan Ramadhan, kumpulan tulisan dengan editor Laleh Bakhtiar dan pengantar oleh Seyyed Hossein Nasr yang diterbitkan Mizan, 1997

Sumber:
http://www.muhammadnoer.com/2009/08/puasa-lahir-batin/

Sudah Berapa Kali Kita Khatam al-Qur’an?

  Oleh: Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA
 
TADARUS al-Qur’an adalah suatu aktivitas interaksi seorang muslim dengan al-Quran. Ia merupakan amal shalih yang paling digalakkan pada bulan Ramadhan. Sayangnya, selama ini banyak orang semangat bertadarus, namun tujuannya pamer dengan suara yang keras dan lantang. Padahal, tadarus seperti ini akan hilang maknanya atau menjadi sia-sia, karena riya’  atau mengganggu orang lain. Terlebih lagi bagi orang yag bertadarus pada malam hari hingga lewat tengah malam dengan suara yang keras (memakai mikrofon). Tentu sangat mengganggu aktivitas istirahat dan ibadah saudara kita yang lain. Terlebih lagi ada saudara kita yang sakit.

Sebenarnya, tadarus tidak hanya bermakna memperbanyak bacaan al-Qur’an dan mengkhatamkannya, namun juga bermakna memahami, mentadabburi dan mempelajari al-Qur’an. Semua aktivitas yang berkaitan dengan al-Qur’an ini bertujuan untuk mengamalkan al-Qur’an. Sangatlah keliru bila seseorang mengklaim dirinya mengamalkan al-Qur’an tanpa membaca, memahami dan mempelajarinya. Karena, sebelum kita mengamalkan a-Quran, tentu harus melewati proses membaca, memahami dan mempelajarinya.


Pada bulan Ramadhan Rasulullah saw selalu bertadarus al-Qur’an dengan Jibril as, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ibnu Abbas (H.R. Bukhari). Makna ruhiah inilah yang dipahami oleh para ulama salafusshalih (shahabat, tabiin dan tabi’ tabi’in) sehingga mereka meninggalkan sementara aktivitas dunia mereka, bahkan pengajian yang mereka asuh selama ini hanya untuk bertadarus atau berinteraksi dengan al-Qur’an pada bulan Ramadhan. Sebahagian mereka ada yang mengkhatamkan al-Quran setiap tiga hari. Ada pula yamg mengkhatamkannya setiap sepekan dan sepuluh hari. Bahkan ada yang mampu mengkhatamkan al-Qur’an setiap harinya pada bulan Ramadhan.

Maka, sudah sepantasnya bulan Ramadhan ini kita berkosentrasi penuh dengan al-Qur’an dan berinteraksi dengannya sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan para ulama salafusshalih.  Terlebih lagi bulan Ramadhan memiliki sederet kelebihan dan keutamaan, bulan dimana disediakan mega bonus pahala bagi orang yang mengisi hari-harinya dengan ibadah dan amal shalih, terutama aktivitas memperbanyak membaca dan mempelajari al-Qur’an yang dikenal dalam masyarakat kita dengan sebutan tadarrus al-Qur’an.


Lantas, bagaimana dengan komitmen kita selama ini sebagai seorang muslim terhadap al-Quran, sudahkah kita membacanya setiap hari dan mengkhatamkannya? Sudahkah kita memahami makna  dan isi kandungan al-Qur’an dan mentadabburi ayat-ayatnya?

Pertanyaan ini penting dijawab oleh diri kita masing-masing sebagai introspeksi dan inspirasi bagi kita untuk bersemangat dalam berinteraksi dengan al-Qur’an, terlebih lagi di bulan Ramadhan ini.

  Kiat Berinteraksi dengan al-Quran
  Di bulan Ramadhan inilah kita perlu mempertegas kembali komitmen dan interaksi kita terhadap al-Qur’an. Interaksi dengan al-Qur’an atau tadarus al-Qur’an dapat dilakukan dengan cara-cara berikut:

Pertama, memperbanyak bacaan al-Qur’an. Bertekad untuk membaca al-Qur’an setiap harinya di bulan Ramadhan. Target minimal mampu membaca 1 juz setiap harinya sehingga dapat mengkhatamkan bacaan al-Qur’an sekali selama bulan Ramadhan. Bahkan kalau bisa, kita harus punya target beberapa kali khatam. Sehingga, setelah Ramadhan sudah terbiasa membacanya. Bila kita mampu membaca 1 juz setiap hari berarti kita mampu mengkhatamkan hanya 1 kali selama bulan Ramadhan. Sebenarnya, orang yang mengkhatamkan al-Qur’an hanya 1 kali masih termasuk orang yang malas.


Kenapa demikian? Karena, membaca 1 juz dengan bacaan tartil hanya memakan waktu sekitar 30 s/d 45 menit. Masih banyak tersisa waktu (baca: 23 jam lagi) yang bisa kita gunakan untuk urusan dunia dan akhirat.
Bayangkan, kalau kita mampu membaca 2 juz setiap harinya, berarti akan khatam 2 kali dalam sebulan. Bagaimana kalau kita mampu membaca 5 juz per hari? Tentu khatam 5 kali dalam sebulan. Hal ini tidak terlalu sulit bila kita mau membagi waktu dengan baik.


Caranya mudah, setiap habis shalat fardhu kita berkomitmen untuk baca 1 juz. Maka, bila sehari semalam itu shalat fardu 5 waktu, berarti kita mampu baca 5 juz. Bila kita mampu membaca 5 Juz setiap harinya, berarti kita mampu mengkhatamkan al-Qur’an 5 kali dalam sebulan. Maka tidak mengherankan, bila para ulama salafus shalih mampu mengkhatamkan al-Qur’an selama bulan Ramadhan sampai 10 kali khatam.

Selama ini kita mampu membaca surat kabar yang jumlah hurufnya lebih kurang sebanyak jumlah huruf dalam 1 juz al-Qur’an dalam waktu 15-30 menit. Begitu pula kita mampu suatu majalah dalam waktu waktu beberapa jam bisa mengkhatamkannya. Bahkan kita mampu membaca sebuah buku yang lembaran halamannya setebal al-Qur’an setebal al-Qur’an, baik berupa buku novel, cerpen, roman, komik, buku kuliah dan sebagainya dalam waktu beberapa hari berhasil mengkhatamkannya. Namun sayangnya, giliran membaca al-Qur’an kita tidak mampu membaca 1 juz atau beberapa juz dari Al-Qur’an dalam sehari, terlebih lagi mengkhatamkannya dalam beberapa hari sebagaimana dilakukan oleh para ulama salafusshalih.

Paling tidak, kita berkomitmen untuk mampu membaca 1 juz Al-Qur’an setiap harinya yang hanya butuh waktu kurang dari 1 jam dalam waktu 24 jam yang Allah sediakan waktu buat kita dalam sehari. Terlebih lagi membaca al-Qur’an merupakan ibadah dan mendapat keutamaan yang banyak bagi orang yang membacanya. Tidak demikian halnya dengan bacaan lainnya seperti buku kuliah, novel, komik, koran, majalah dan sebagainya.

Kedua, memahami isi kandungan al-Qur’an yaitu dengan cara memahami makna ayat-ayat al-Qur’an baik secara harfiah (terjemahan) maupun makna tafsir ayat tersebut, agar kita mengerti apa yang kita baca yaitu pesan dan ajaran Allah tersebut sehingga dapat kita amalkan. Mengamalkan al-Qur’an tidak mungkin dilakukan tanpa mengetahui pesan-pesan al-Qur’an tersebut. Begitu pula dengan cara mentadabburi (menghayati) kisah-kisah dalam al-Qur’an, agar menjadi ibrah dan dapat diambil manfaatnya sebagai cermin untuk kehidupan kita saat ini. Tentu kisah yang baik perlu dicontoh dan diamalkan, sedangkan kisah yang tidak baik perlu dijauhi dan ditinggalkan.


Ketiga, menghafal al-Qur’an. Minimal surat-surat pendek dan surat-surat penting lainnya yang sering dibaca dalam shalat. Para ulama shalafus shalih mampu hafal al-Qur’an dalam umur masih kanak-kanak. Misalnya, imam Syafi’i hafal al-Qur’an pada umur 7 tahun. Itulah modal kesuksesan mereka di dunia dan di akhirat, sehingga mengantarkan mereka menjadi seorang ulama dan menjadi hamba Allah yang bertakwa.


Maka sangat disayangkan, jika kita mampu menghafal banyak lagu dan puisi, namun kita tidak mampu menghafal ayat-ayat Al-Qur’an yang suci dan mulia, walaupun hanya beberapa surat pendek atau juz amma. Bahkan, lebih parahnya lagi bila kita merasa tenang dan terhibur dengan lagu dan musik yang melalaikan kita dari ibadah dan mengumbarkan syahwat, namun kita tidak merasa tenang dengan membaca dan mendengar Al-Qur’an yang merupakan kalam suci Allah Swt, padahal Allah berfirman.


لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً



“Sesunggguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah suri tauladan bagimu..” (QS. Al-Ahzab: 21). Hal ini ditegaskan pula di dalam ayat yang lain: “Sesunggguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (QS. Al-Qalam: 4).


Begitu agung dan mulianya akhlak Rasulullah sehingga beliau mendapat pujian dari Allah Swt. Inilah rahasia kesuksesan dakwah Rasulullah saw, sehingga Islam tersebar keseluruh penjuru dunia dan menjadi rahmatan lil ‘alamin.


Demikianlah cara muamalah (interaksi) kita dengan al-Qur’an.

Bulan Ramadhan merupakan momentum yang sangat tepat untuk mempertegas kembali komitmen kita terhadap al-Qur’an. Berbagai kelebihan dan keutamaan Ramadhan sejatinya mampu memotivasi kita untuk lebih peduli dan intensif dalam berinteraksi dengan al-Qur’an.


Sungguh sangat ironis, bila dalam bulan mega bonus pahala ini kita masih malas membaca al-Qur’an dan tidak mampu mengkhatamkannya, maka kapan lagi kita akan rajin membaca Al-Qur’an dan mampu mengkhatamkannnya? Sudah dapat dipastikan kita akan lebih malas lagi membaca Al-Qur’an pada bulan lainnya yang tidak memiliki keutamaan seperti yang dimiliki oleh bulan Ramadhan dengan berbagai kesibukan dan godaan dunia.

Sumber: 
  http://hidayatullah.com/read/18500/17/08/2011/sudah-berapa-kali-kita-khatam-al-qur%E2%80%99an?.html
 

Jumat, 24 Juni 2011

Lima Hikmah Menikah


ANJURAN telah banyak disinggung oleh Allah dalam al-Quran dan Nabi lewat perkataan dan perbuatannya. Hikmah yang terserak di balik anjuran tersebut bertebaran mewarnai perjalanan hidup manusia.

Secara sederhana, setidaknya ada 5 (lima) hikmah di balik perintah menikah dalam Islam.

Pertama, sebagai wadah birahi manusia

Allah ciptakan manusia dengan menyisipkan hawa nafsu dalam dirinya. Ada kalanya nafsu bereaksi positif dan ada kalanya negatif.

Manusia yang tidak bisa mengendalikan nafsu birahi dan menempatakannya sesuai wadah yang telah ditentukan, akan sangat mudah terjebak pada ajang baku syahwat terlarang. Pintu pernikahan adalah sarana yang tepat nan jitu dalam mewadahi 'aspirasi' nulari normal seorang anak keturunan Adam.

Kedua, meneguhkan akhlak terpuji

Dengan menikah, dua anak manusia yang berlawanan jenis tengah berusaha dan selalu berupaya membentengi serta menjaga harkat dan martabatnya sebagai hamba Allah yang baik.

Akhlak dalam Islam sangatlah penting. Lenyapnya akhlak dari diri seseorang merupakan lonceng kebinasaan, bukan saja bagi dirinya bahkan bagi suatu bangsa. Kenyataan yang ada selama ini menujukkkan gejala tidak baik, ditandai merosotnya moral sebagian kawula muda dalam pergaulan.

Jauh sebelumnya, Nabi telah memberikan suntikan motivasi kepada para pemuda untuk menikah, "Wahai para pemuda, barangsiapa sudah memiliki kemampuan untuk menafkahi, maka hendaknya ia menikah, karena menikah dapat meredam keliaran pandangan, pemelihara kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, hendaknya ia berpuasa, sebab puasa adalah sebaik-baik benteng diri." (HR. Bukhari-Muslim)

Ketiga, membangun rumah tangga islami

Slogan "sakinah, mawaddah, wa rahmah" tidak akan menjadi kenyataan jika tanpa dilalui proses menikah. Tidak ada kisah menawan dari insan-insan terdahulu maupun sekarang hingga mereka sukses mendidik putra-putri dan keturunan bila tanpa menikah yang diteruskan dengan membangun biduk rumah tangga islami.

Layaknya perahu, perjalanan rumah tangga kadang terombang-ambing ombak di lautan. Ada aral melintang. Ada kesulitan datang menghadang. Semuanya adalah tantangan dan riak-riak yang berbanding lurus dengan keteguhan sikap dan komitmen membangun rumah tangga ala Rasul dan sahabatnya.

Sabar dan syukur adalah kunci meraih hikmah ketiga ini. Diriwayatkan tentang sayidina umar yang memperoleh cobaan dalam membangun rumah tangga.

Suatu hari, Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah, tak tahan dengan kecerewetan istrinya.
Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah.Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.

Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Beliau berkata, "Wahai saudaraku, istriku adalah yang memasak masakan untukku, mencuci pakaian-pakaianku, menunaikan hajat-hajatku, menyusui anak-anakku. Jika beberapa kali ia berbuat tidak baik kepada kita, janganlah kita hanya mengingat keburukannya dan melupakan kebaikannya."

Pasangan yang ingin membangun rumah tangga islami mesti menyertakan prinsip kesabaran dan rasa syukur dalam mempertahankan 'perahu daratannya'.

Keempat, memotivasi semangat ibadah

Risalah Islam tegas memberikan keterangan pada umat manusia, bahwa tidaklah mereka diciptakan oleh Allah kecuali untuk bersembah sujud, beribadah kepada-Nya.

Dengan menikah, diharapkan pasangan suami-istri saling mengingatkan kesalahan dan kealpaan. Dengan menikah satu sama lain memberi nasihat untuk menunaikan hak Allah dan Rasul-Nya.

Lebih dari itu, hubungan biologis antara laki dan perempuan dalam ikatan suci pernikahan terhitung sebagai sedekah. Seperti diungkap oleh rasul dalam haditsnya, "Dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah sedekah." " Wahai Rasulullah, apakah (jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?" Rasulullah menjawab, "Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa, demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala." (HR. Muslim)

Kelima, melahirkan keturunan yang baik

Hikmah menikah adalah melahirkan anak-anak yang salih, berkualitas iman dan takwanya, cerdas secara spiritual, emosional, maupun intelektual.

Dengan menikah, orangtua bertanggung jawab dalam mendidik anak-anaknya sebagai generasi yang bertakwa dan beriman kepada Allah. Tanpa pendidikan yang baik tentulah tak akan mampu melahikan generasi yang baik pula.

Lima hikmah menikah di atas, adalah satu aspek dari sekian banyak aspek di balik titah menikah yang digaungkan Islam kepada umat. Saatnya, muda-mudi berpikir keras, mencari jodoh yang baik, bermusyawarah dengan Allah dan keluarga, cari dan temukan pasangan yang beriman, berperangai mulia, berkualitas secara agama, lalu menikahlah dan nikmati hikmah-hikmahnya. Wallahu A`lam.


 

Sumber:

Ali Akbar bin Agil

http://hidayatullah.com/read/17644/22/06/2011/lima-hikmah-menikah-.html