Minggu, 22 Mei 2011

Pemuda dan Sihir Sektarian

KH Said Aqiel Siroj


Sungguh kita rasakan keprihatinan yang mendalam tentang kisah anak muda zaman sekarang. Ada penurunan tingkat kualitas generasi muda yang sudah merambah baik dari aspek moralitas, keagamaan, sosial, spiritual, maupun ideologis. Kasus-kasus perkelahian antarpelajar, maraknya penggunaan narkoba, pergaulan bebas, konsumerisme, hilangnya rasa kesantunan anak muda, kriminalitas remaja, dan sihir radikalisme terhadap anak muda.

Kalau dulu kita bangga dengan tampilnya tokoh-tokoh muda zaman pergerakan seperti Soekarno, Hatta, Agus Salim, Syahrir, Wahid Hasyim, dan masih banyak lainnya. Mereka inilah yang menjadi 'energi' kemerdekaan bangsa sekaligus pembangun format bangsa yang berkarakter dan berkepribadian.

Kini, kita miris dengan fenomena makin menipisnya karakter yang dimiliki khususnya anak muda kita. Tiba-tiba kita jadi tersentak tentang kisah M Syarif, anak muda yang dengan kalapnya melakukan bom bunuh diri di Mapolsek Cirebon di saat jamaah shalat Jumat. Akibat hipnosis sebuah kelompok puritan-radikal, Syarif juga tega-teganya mengafirkan bapaknya hanya karena perbedaan pandangan keislaman. Contoh kasus paling soft, fakta banyaknya anak muda yang karena tersihir faham puritan, sontak kemudian suka membidahkan keluarganya yang tidak sepaham. Ada pula, anak-anak muda yang terdoktrin untuk tidak mau menghormati bendera merah-putih, karena bisa membawa kesyirikan. Ini juga fakta yang mencemaskan akibat pengaruh sektarian yang sekalipun masih tampak lunak, tetapi dikhawatirkan bisa menjadi benih radikalisme.

Cobalah pula kita saksikan panorama lanjut yang lebih ekstrem, ternyata 'pengantin-pengantin' yang dijadikan tumbal teroris dalam melakukan aksi bom bunuh dirinya selama ini juga dimainkan oleh anak muda. Begitu pun terkuaknya jaringan NII yang juga beraksi memakan korban anak muda dengan taktik bujuk rayu bahkan dengan penculikan. Banyaknya anak muda yang terjerat faham puritan, radikal, dan sesat sepertinya bagai fenomena gunung es. Perlu penelitian lebih saksama tentang keterpengaruhan anak muda terhadap radikalisme.

Darurat karakter

Reformasi sepertinya bagai pedang bermata dua. Di satu sisi, era ini sangat menjanjikan perubahan berarti yang akan melahirkan tatanan baru yang lebih baik. Di sisi lain, reformasi telah menjelma menjadi 'pil koplo', yang membuat lupa daratan sehingga ada masalah yang tercecer dan terkatung akibat lebih dahsyatnya impian pembangunan fisik demi kesejahteraan. Ya, kita jadi lupa tentang pentingnya nation character building (pembangunan karakter bangsa). Kita jadi siuman setelah sebagian generasi muda kita menghisap dalam-dalam kepulan ajaran dan pandangan sesat tentang kehidupan berbangsa dan bernegara. Radikalisme menjadi tumbuh membiak yang membuat banyak anak muda tercerabut paksa dari akar kearifan budaya lokal.

Akhirnya, para pengambil kebijakan negara menjadi sadar untuk mengupayakan sebuah kebijakan demi memperkokoh kembali karakter bangsa. Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh pun mencanangkan pentingnya pendidikan karakter dengan kebijakan memulainya dari pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi. Implementasi ketetapan tersebut dimulai sejak tahun ajaran baru 2011/2012, yang dimulai Agustus nanti. Kita memang mendesak butuh lahirnya gerakan pendidikan karakter. Sebab, situasi bangsa ini sudah menjurus pada tahap darurat karakter. Apa pun ikhtiar dan daya upaya untuk memperkokoh karakter bangsa, akan kita sokong sepenuhnya. Dan, ini harus dilakukan secara konsisten dan kontinyu.

Menurut Zakiah Daradjat dalam buku Ilmu Pendidikan Islam (2008), masa remaja adalah masa peralihan, yang ditempuh oleh seseorang dari kanak-kanak menuju dewasa. Masa perpanjangan dari kanak-kanak sebelum mencapai dewasa. Anak-anak jelas kedudukannya, yaitu yang belum dapat hidup sendiri; belum matang dari segala segi; tubuh masih kecil; organ-organ belum dapat menjalankan fungsinya secara sempurna; serta kecerdasan, emosi, dan hubungan sosial belum selesai pertumbuhannya. Begitulah, masa remaja adalah masa yang penuh keguncangan jiwa, masa berada dalam peralihan atau di atas jembatan goyang, yang menghubungkan masa kanak-kanak yang penuh ketergantungan dan masa dewasa yang matang dan berdiri sendiri.

Dalam pembagian tahap perkembangan manusia, masa remaja menduduki tahap progresif. Sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohaninya, agama pada para remaja pun turut dipengaruhi perkembangan, dengan penghayatan para remaja terhadap ajaran agama dan tindak keagamaan yang tampak pada para remaja. Perkembangan agama pada remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan rohani dan jasmaninya, yang antara lain disebabkan oleh pertumbuhan pikiran dan mental, berkembangnya perasaan, pertimbangan sosial, perkembangan moral, sikap dan minat, serta soal ibadah (W Starbuck dalam Jalaluddin, Psikologi Agama, 2010).

Jelaslah, kondisi psikologis remaja masih labil. Malangnya, kondisi ini diperuncing oleh suasana sosial yang retak. Tak heran, lakunya ajaran radikal dan sesat di kalangan anak muda juga lantaran masyarakat kini mengalami kondisi yang serba tidak menentu. Akibatnya, anak-anak muda berusaha mencari seorang pemimpin yang dapat dipercaya dan dapat menerima krisis identitas mereka. Dalam sosiologi agama, ada istilah yang disebut harapan eskatologis. Dalam harapan ini, anak muda percaya bahwa pemimpin mereka adalah juru penyelamat, Imam Mahdi, atau apa pun yang akan menyelamatkan mereka. Harapan itu terbit karena pemahaman agama mereka belum mempunyai dasar yang kuat. Mereka lalu mengalami misleading dalam pencarian.

Bila anak muda hanya mengikuti arus, sebagaimana mereka mengikuti tren dalam musik, fashion, atau gaya hidup-gaya hidup modern lainnya tanpa bersikap kritis-maka mereka akan mudah terjebak dalam arus pemikiran dan ajaran yang menyimpang. Nah, budaya sikap kritis perlu diperkuat kembali. Dunia kampus kita sekarang mengalami degradasi dalam hal membangun insan akademis yang kritis. Kita sungguh kecolongan, bagaimana seorang Pepi Fernando yang lulusan UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, yang dikenal kampus modern dan liberal, mau-maunya melakukan tindakan terorisme. Ya, ini di antaranya akibat budaya diskusi dikalangan mahasiswa menipis. Guru dan dosen tidak tampil menjadi sosok-sosok yang menggugah kesadaran kritis. Budaya pragmatis rasanya telah menghanyutkan civitas akademika. Tak berlebihan bila banyak yang menghubungkan radikalisme anak-anak muda juga akibat dari guru-guru yang berpandangan radikal.

Pesantren bisa menjadi tumpuan untuk membendung pemikiran radikal. Syaratnya, pesantren yang moderat dan akrab dengan lokalitas budaya. Kiai-kiai kampung pun bisa menjadi acuan deradikalisasi, karena mereka inilah yang dekat dengan grass root dan selalu menyampaikan ajaran Islam yang teduh dan arif.

Sumber:

http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/4/32153/Kolom/Pemuda_dan_Sihir_Sektarian.html

Enam Pertanyaan Al-Ghazali

الحمد لله رب العالمين وبه نستعين على امورالدنيا والدين. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله.  اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين. اما بعد
فياعباد الله أوصيكم وإياي بتقوى الله فقد فاز المتقون, وقال الله تعالى فى القرأن العظيم كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ الله العلي العظيم


Jama'ah Jum'ah Rohimakumullah


Pada kesempatan khutbah kali ini, pertama-tama saya mengajak pribadi saya sendiri dan kaum muslimin umumnya untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah swt. Hanya dengan taqwalah bekal yang untuk menghadap-Nya nanti. Fainna khairaz zadit taqwa. Jangan ragukan janji Allah, bahwa ia hanya melihat seseorang dari ketaqwaannya bukan dari sisi lainnya.

Jama'ah yang dimuliakan Allah.

Dalam khutbah kali ini saya hendak mengisahkan sebuah cerita diskusi antara Imam Al-Ghozali dengan muridnya. Ada enam pertanyaan yang dilontarkan beliau kepada para muridnya, dan kesemuanya sangat bagus untuk kita simak niali-nilai yang terkandung di dalamnya.

Suatu ketika Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya.

Wahai murid-muridku sekalian, coba kalian jawab "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?"

Murid-muridnya menjawab "orang tua,guru,kawan,dan sahabatnya".


 

Imam Ghozali menjelaskan semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "MATI".

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ


Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayaka (Ali Imran 185)

Kematian adalah sesuatu yang tiada seorang pun tahu kapan ia akan datang. Karena itu manusia harus selalu bersiap diri menghadapinya. Terkadang ia jauh terasa, padahal ia dekat dalam kenyataannya. Janganlah kita lengah dalam memahami hal ini, jangan sekali-kali merasa diri jauh dari mati, karena itu membuat kita besar hati. Justru kerahasiaannya harus kita maknai bahwa mati bisa terjadi kapan saja dan dimana saja tanpa adanya peringatan dari-Nya. Inilah yang hendak disampaikan oleh Al-Ghazali kepada murid-muridnya.

Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua.... "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?"
Murid -muridnya menjawab "negara Cina, bulan, matahari dan bintang -bintang".
Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahawa semua jawapan yang mereka berikan itu adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "MASA LALU". Walau dengan apa cara sekalipun kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Ini tepat dengan sebuah hadits yang menganjurkan bahwa kehidupan kita hari ini harus jauh lebih baik dari kemaren, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Jika difikir lebih dalam, maka yang perlu diperhatikan adalah waktu. Waktu tidak akan datang berulang untuk kedua kali, sekali kita bertindak kesalahan kita tidak bisa merevisinya lagi. Paling banter kita hanya bisa bertobat dan berharap pengampunan. Sebagian pepatah bilang waktu adalah sesuatu yang paling berharga. Emas, harta bisa dicari tapi waktu yang sudah berlalu tak mungkin hadir kembali.

Jama'ah Jum'ah yang berbahagia

Mati dan waktu adalah dua rahasia yang ada di genggaman-Nya. Kita sebagai hamba hanya bisa berharap dan berdo'a semoga Allah swt memberikan anugrah kepada kita agar mampu memanfaatkan waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian.

Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga.... "Apa yang paling besar di dunia ini?". Murid-muridnya menjawah "gunung, bumi dan matahari".
Semua jawapan itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "NAFSU"

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَـٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَـٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai. (QS. 7:179) (Al A'Raf 179)

Nafsu adalah hal penentu pada diri manusia. Ingin bahagia yang hakiki? Kendalikanlah nafsumu, ingin celaka selamanya? Turuti nafsumu... pengendalian nafsu adalah kunci dalam hidup ini. Itulah pesan tersembunyi dari al-Ghazali bahwa nafsu adalah hal paling besar, hal yang paling menentukan....

Kemudian al-Ghazali meneruskan pada Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?". Murid-murid Ada yang menjawab "besi dan gajah".
Semua jawapan adalah benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "MEMEGANG AMANAH"

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS. 33:72) (Al Ahzab 72).

Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini.
Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak dapat memegang amanahnya.

Jama'ah yang dimuliakan Allah

Pertanyaan Imam al-Ghazali yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?"...

Ada yang menjawab "kapas, angin, debu dan daun-daunan".

Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Sholat. Gara-gara pekerjaan kita meninggalkan sholat, gara-gara bermesyuarat kita meninggalkan sholat.



Kita harus ingat bahwa sholat adalah hal pertama yang ditanyakan Allah kepada manusia. Dan sholat adalah kewajiban terpenting di dunia ini. Namun anenya, meski demikian sholat adalah hal termudah yang sering dilewatkan oleh orang-orang muslim? Ringan sekali mlewatinya.

Dan pertanyaan keenam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?"...

Murid-muridnya menjawab dengan serentak, "pedang".

Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "LIDAH MANUSIA" Karena melalui lidah, Manusia selalunya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Ingatlah sebuah hadits yang menerangkan:

المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده 

seorang muslim adalah orang bisa menjaga orang muslim lainnya dari lisannya dan tangannya.

Akhirnya, di penghujung khotbah ini saya mengajak diri saya dan jama'ah sekalian bila ada waktu sering-seringlah merenung bahwa mati akan segera menjemput kita, insyaallah diri kita akan termotifasi untuk mengendalikan nafsu, menjalankan sholat, menjaga lidah dan memegang amanah.


 

بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم


 

Sumber: http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/9/28035/Khotbah/Enam_Pertanyaan_Al_Ghazali.html

Rabu, 27 April 2011

JINTAN HITAM PUN BERKHASIAT

"Hendaklah kalian mengkonsumsi jintan hitam karena di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan segala penyakit, kecuali assam (yang dimaksud adalah maut)" (HR.Bukhari)

Segala sesuatu yang diciptakan Allah di dunia ini memiliki manfaat. Sekecil apapun ciptaan-Nya itu pasti mengandung banyak faidah, baik yang berguna untuk benda itu sendiri, manusia maupun bagi kehidupan dunia secara luas.

Satu diantara benda yang dimaksud adalah sebuah biji berwarna hitam (baca: jintan hitam) yang bisa dimanfaatkan sebagai obat untuk menyembuhkan beberapa jenis penyakit. Khasiat jintan hitam tersebut, jauh-jauh hari, telah dilontarkan Nabi SAW. seperti yang diriwayatkan Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW mengatakan, "Pada biji hitam terkandung kesembuhan dari segala penyakit kecuali maut". (HR. Bukhari)

Dilihat dari namanya, wajar bila ia disebut hitam, karena ia adalah jenis biji-bijian yang memeang berwarna hitam. Bentuknya seperti wijen. Selain itu ia juga mengandung banyak manfaat karena bisa dijadikan sebagai penawar.

Di Mesir, biji-bijian ini dinamakan habbah barakah (biji yang memiliki berkah), kadang juga kamun aswad, sedang di Yaman dinamai qahthan. Sementara di Iran disebut suwainiz, naqna' al-ghalan dan kadang juga disebut basmah.

Mengapa jintan hitam begitu berkhasiat? Tak lain karena jintan hitam mengandung fosfat, zzat besi, fosfor, karbohidrat dan minyak yang mengandung banyak khasiat. Kadar minyak terseut kira-kira 28%.

Jintan hitam juga mengandung antibiotika yang berguna untuk membasmi virus, kuman dan bakteri. Terdapat pula karotena yang bisa berfungsi sebagai anti kanker; hormon-hormon seks yang menguatkan, menyuburkan dan membuat semangat; zat pendorong produksi air seni dan empedu; serta enzim-enzim pencerna dan anti keasaman. Selain itu jintan hitam juga memiliki zat penenang sekaligus penyamangat.

Minggu, 24 April 2011

Ibu

Ibu yang sholihah adalah dambaan setiap wanita. Ia memahami bagaimana memperlakukan keluarganya sesuai dengan tata cara dan nilai-nilai kebajikan di dalam agama IslamSemua tak lain bertujuan untuk mengharapkan keridhaan Allah swt.

Selayaknyalah kita memberikan penghormatan yang besar terhadap ibu dengan pengorbanannya yang demikian agung. Setelah mengandung, melahirkan, menyusui, dan mengurus anak-anaknya hingga besar, kasih saying seorang ibu tak akan pernah habis atau lekang oleh waktu.

Waktu seorang ibu habisnya bukan hanya untuk dirinya sendiri. Sepanjang hidupnya mengabdikan dirinya untuk suami dan anak-anaknya. Ia menemani suami dalam keadaan suka maupun duka, menjaga keutuhan rumah tangganya, sementara suami mencari nafkah. Ibu juga sangat berperan dalam mendidik anak-anaknya. Setiap manusia akan dimintai pertanggung jawabannya, dan tanggung jawab seorang ibu adalah terhadap rumah tangganya.

Selasa, 22 Maret 2011

Bab Menerangkan Tentang Hukum-hukum Tanwin dan Nun Mati

Yang dinamakan tanwin adalah nun mati yang berada di akhir kalimat isim, yang terlihat ketika diucapkan dan hilang ketika ditulis serta dalam keadaan waqaf (berhenti). Misalnya lafal: 
عَذَابًا اَلِيْمًا - عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ
Adapun "Nun sakinah" adalah nun yang tetap ketika diucapkan atau ditulis ketika berhenti baik ia berada pada kalimat huruf maupun kalimat fi'il. 
Contoh : 
كلمه حرف (مِنْ) كلمه اسم (مُنْقَطِعٌ) كلمه فعل (كُنْ) ا

===========
أَحْكَامُ تَنْوِيْنٍ وَنُوْنٍ تَسْكُنُ * عِنْدَ الْهِجَاءِ خَمْسَةٌ تُبَيَّنُ
"Hukum-hukum tanwin dan nun mati ketika bertemu dengan salah satu dari huruf hijaiyah (yang jumlah hurufnya 28) ada lima. Insya Allah akan diterangkan.

Jumat, 04 Maret 2011

Empat Pertanyaan yang Mesti Dijawab

"Dari Abu Barzah Nadhlah bin 'Ubaid al Aslami Ra. Ia berkata: Bersabda Rasulullah saw. "Belum bergeser kedua kaki seorang hamba (di hadapan Allah swt. pada hari kiamat), sehingga terlebih dahulu ia akan ditanya tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya dan tentang ilmunya untuk apa ia melakukannya dan tentang hartanya darimana ia didapat dan untuk apa dibelanjakannya dan tentang badannya untuk apa digunakannya. (HR. Tirmidzi)

Beristighfar

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda:
 "Barangsiapa menetapi istighfar, maka Allah akan menjadikan baginya dari tiap-tiap kesulitan suatu jalan keluar, dan setiap kesusahan suatu jalan keluar, serta Dia memberi rizki dari arah yang tidak diduga-duga." (HR. Muslim)